22 Years of Friendship

“Apa kalian pacaran?”

Itu adalah pertanyaan yang paling sering dilontarkan kepada Rifky akhir-akhir ini. Bosan mendengarnya.

“Temenan doang.”

“Bullshit! Mana ada orang bolos kerja buat liat teman perempuannya sidang skripsi. Cirebon-Bandung jauh bos, naik motor pula. Mustahil temen doang.”

Rifky tertawa menanggapinya. Ia yang sudah bekerja di perusahaan swasta di Cirebon sengaja datang jauh-jauh untuk memberikan support kepada Fipit, teman perempuan yang sudah dikenal lebih dari separuh usianya. Fipit sedang sidang skripsi di Kampus UPI Bandung. Kebetulan Rifky bertemu teman lamanya di kampus tersebut.

“Demi temen lah,” jawab Rifky santai.

“Bulan kemarin gue sidang, lu ga bela-belain kesini.”

“Hahaha, beda lah bro.”

Pernyataan teman Rifky itu memang ada benarnya. Rifky tak bisa mengelak. Akhirnya ia hanya menanggapinya dengan tawa. Rifky tak mau membahas lagi pertanyaan temannya itu. Jujur saja, ia sendiri bingung dengan status hubungannya dengan Fipit. Mereka berteman, tapi tingkah keduanya menggambarkan hubungan yang lebih dari itu. Hal tersebut sudah berlangsung lama.

Kalau diingat lagi, mereka memang sudah lama saling mengenal.

Terlalu lama…

Rifky dan Fipit pertama kali bertemu di taman kanak-kanak. Saat itu mereka masuk sekolah taman kanak-kanak yang sama di Sumedang pada tahun 1996. Awalnya mereka tak begitu akrab. Hingga masuk ke sekolah dasar yang sama pun, Rifky tak mencoba untuk mengakrabkan diri meskipun mereka saling kenal dan berada di satu bangunan yang sama. Rifky memang jarang bergaul dengan perempuan sehingga berinteraksi dengan Fipit adalah hal yang terasa aneh untuknya.

Sekitar tahun 2000, keluarga Fipit pindah rumah ke dekat rumah Rifky, hanya berjarak 500 meter saja ke arah selatan. Sering sekali mereka secara kebetulan berangkat sekolah bersama meskipun tidak saling bertegur sapa. Keadaan itu berlangsung cukup lama hingga membuat Rifky terbiasa melihat kehadiran Fipit di dekatnya.

Menjelang kelulusan sekolah dasar, beredar kabar di teman-teman mereka kalau ternyata Fipit menyukai Rifky. Ah, cinta monyet, pikirnya saat itu. Perempuan memang lebih cepat dewasa dibanding laki-laki. Rifky tak terlalu peduli. Di saat yang sama dipikirannya hanya ada bermain kelereng dan tazos,  bukan cinta-cintaan. Sebenarnya ia cukup merasa risih dengan beredarnya kabar tersebut. Tapi toh sebentar lagi ia akan lulus dan masuk SMP. Jadi lebih baik cuek saja, seolah tak tahu.

Rifky masuk ke SMP 1 Sumedang pada tahun 2003 karena lokasinya paling dekat rumah. Murid yang lain kebanyakan masuk ke SMP 2, termasuk Fipit. Hari-hari selanjutnya berjalan begitu damai tanpa ribut-ribut gosip. Rifky bisa sekolah dan bermain tanpa ada ‘gangguan’ dari Fipit karena mereka beda sekolah. Kesibukan di SMP pun membuat mereka jarang bertemu. Rifky lulus SMP pada tahun 2005, satu tahun lebih cepat dari seharusnya karena ikut kelas akselerasi.

Rifky meneruskan sekolah ke SMA 1 Sumedang. Seiring waktu ia menjalani masa SMA, Rifky mulai sadar kalau ada sosok yang hilang dalam hari-harinya, sosok Fipit yang sudah lama tidak ia lihat selama 2 tahun ini. Aneh memang, padahal rumah mereka dekat. Tapi kenyataannya Fipit selalu terlihat sibuk sehingga mereka sangat jarang bertemu.

Sejak saat itu Rifky mulai mengamati jam berapa Fipit pulang ke rumah. Ternyata ia pulang sekitar jam 3 sore, sepertinya mampir dulu ke rumah saudaranya. Rumah Fipit lebih jauh sehingga mau tak mau, setiap pulang  akan lewat ke dekat rumah Rifky. Jadilah sejak saat itu pada jam 3 sore pandangan Rifky akan selalu tertuju pada jalur yang biasa dilalui Fipit. Entah itu saat sedang bermain, ataupun sedang ada di balkon lantai 2 rumahnya. Kalau begini ia seperti stalker yang mengamati Fipit terus-menerus. Kesenangan Rifky hilang saat Fipit hilang di persimpangan jalan. Ia hanya berharap bisa melihat Fipit lagi besok sore.

Kebiasaan aneh itu terus berlanjut. Orang mungkin menilai itu kegiatan yang buang-buang waktu, hanya untuk melihat orang lain dari kejauhan. Wajahnya saja tidak terlihat jelas. Namun ada rasa senang yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Seolah-olah Rifky menemukan kembali sosok yang hilang dari hidupnya.

Tahun 2006, tiba saatnya penerimaan siswa baru di SMA 1 Sumedang. Momen yang ditunggu bagi sebagian anak kelas 2 dan 3 untuk menonton, mencari target gebetan baru. Rifky pun terlihat melakukan hal yang sama, namun bedanya, Rifky bukan mencari gebetan, ia hanya sedang mencari dimana keberadaan temannya di antara ratusan siswa baru yang sedang berbaris di lapangan upacara. Ia yakin Fipit akan masuk ke sekolah yang sama. Tidak memerlukan waktu lama untuk mencarinya. Rifky menemukan sosok yang dicarinya, sosok yang familiar di otaknya. Menyenangkan sekali bisa melihat sosok yang selama ini dilihatnya dari kejauhan, kini berada sangat dekat dengannya.

Fipit telah tumbuh dewasa, rambutnya kini panjang terurai, wajahnya melancip tak lagi bulat seperti saat di sekolah dasar. Rifky jadi senyum-senyum sendiri melihat betapa 3 tahun ini telah membuat sosok mereka berbeda.

Rifky berpikir, melihat sosoknya saja kini tak lagi cukup, ia ingin memperbaiki hubungan mereka yang terkesan kaku di masa lalu. Mengobrol secara langsung atau meminta nomor HP-nya secara frontal kepada orangnya, dikhawatirkan membuat Fipit tak nyaman. Apalagi kesan cowok cuek sudah terlanjur melekat di sosok Rifky. Rifky akhirnya meminta nomor Fipit ke teman satu kelasnya. Tak sulit karena sebenarnya teman Fipit itu teman Rifky juga karena dulu mereka satu angkatan.

Malam itu, Rifky menyapa Fipit lewat SMS. Namun jawaban Fipit sangat jauh dari ekspektasinya.

“Rifky yang mana ya? Emang aku kenal kamu?” balas Fipit.

Oh, ingin rasanya Rifky membanting HP. Ia sudah memprediksi balasan Fipit akan ketus, namun tidak separah ini. Dengan bermodal kesabaran yang tersisa, Rifky mencoba menjelaskan siapa dirinya.

“Ini Rifky, temen SD kamu. Lupa?”

“Temen aku? Yang mana sih?”

“Astaga, rumah kita beda 5oo m. Jangan pura-pura ga tau deh,” balas Rifky mulai emosi.

“Owhh, Rifky itu…”

Belakangan diketahui kalau Fipit hanya memberi pelajaran kepada Rifky yang dulu cuek dan jutek kepadanya.

Tak butuh waktu lama sampai mereka dekat kembali karena pada dasarnya mereka sudah saling mengenal sejak lama. Setiap malam mereka akan mengobrol lewat SMS dan sesekali lewat telpon. Sering mereka mengobrol hingga larut malam, menceritakan saat-saat mereka jarang bertemu. Fipit mengaku kalau dulu dia sempat kesal kepada Rifky karena menjauhinya, sikap Rifky yang cuek membuatnya muak. Ia akhirnya berusaha melupakan Rifky sejak mereka berbeda sekolah. Sebaliknya, Rifky bicara blak-blakan pada Fipit kalau ia memang kesepian saat mereka jarang bertemu. Maklum saja, di blok tempat tinggal mereka, hanya mereka berdua yang sebaya. Remaja lainnya kurang klop diajak mengobrol karena usia mereka ada jauh di bawah atau di atas mereka.

Dari obrolan mereka, Rifky mendapatkan gambaran kalau Fipit yang sekarang tidak ekspresif seperti dulu. Dia sudah lebih kalem. Cara dirinya memaafkan Rifky juga jadi bukti kalau kini ia jadi lebih dewasa dan mudah memaafkan. Dia justru menertawai Rifky karena terlalu berpikir jauh dengan menyiapkan kata-kata panjang hanya untuk meminta maaf.

Di sore hari, Rifky pun sudah tak segan lagi untuk melambaikan tangannya ketika Fipit lewat di dekat rumahnya. Dari kejauhan, Fipit membalas lambaian tangannya.

Hari demi hari, mereka semakin dekat. Tepatnya, Rifky yang selalu berusaha ada di dekat Fipit. Matanya akan selalu menyisir sekitar kelas Fipit, melihat jika ada lelaki lain yang berusaha mendekatinya. Kelas Rifky berada berada di lantai 2, sedangkan Fipit di lantai 1 sehingga mudah melakukannya. Aneh memang. Padahal di saat yang sama Rifky sedang dekat dengan perempuan lain. Meskipun tetap saja saat ada 2 SMS yang masuk secara bersamaan, maka Fipit akan jadi prioritas pertama. SMSnya akan dibalas duluan, sedangkan SMS lain akan terlupakan. Rifky tak tahu apa yang mendorongnya untuk melakukan semua itu. Seolah semuanya terjadi tanpa terkendali.

Di tahun ketiga SMA, Rifky mulai khawatir kehilangan Fipit untuk kedua kalinya. Ia sudah diterima kuliah di UNIKOM Bandung, dan hanya punya waktu beberapa bulan lagi di SMA. Setelah ia kuliah di Bandung, tentu mereka akan jarang bertemu.

Rifky yakin perasaannya bukan sekedar peduli kepada seorang teman, melainkan lebih dari itu. Tepat sebelum kuliah di Bandung, Rifky menyatakan cintanya kepada Fipit.

Dan Fipit menolaknya mentah-mentah.

“Kamu tuh lebih enak jadi temen.”

Rifky merasa aneh. Jika benar dulu Fipit menyukainya, kenapa sekarang ia menolak? Padahal sekarang Rifky sudah siap. Apa rasa sukanya dulu hanya sebatas kagum saja ? Atau rasa suka sesaat yang hilang terkikis oleh kecuekan Rifky di masa lalu?

“Tapi aku ga mau cuma temen,” ujar Rifky keras kepala.

“Pacaran itu ada resiko putus, aku takut kita putus dan ga bisa temenan lagi,” jelasnya.

Butuh waktu berhari-hari untuk meyakinkan Fipit hingga akhirnya menyetujui juga mereka berpacaran.

Bagi Rifky, Fipit menjadi mood booster, penyemangatnya untuk pulang ke Sumedang. Ia nyaris pulang setiap minggu. Ia tak tahu kalau ia akan sangat merindukan gadis pujaannya itu padahal hanya berpisah seminggu, itupun setiap malam mereka selalu menghubungi lewat YM/telepon.

Berbulan-bulan hubungan mereka berjalan, namun Rifky mulai merasa ada yang tak beres. Ia mulai merasa jenuh.

Fipit tidak seperti yang ada di bayangannya. Gadis itu sangat sulit untuk diajak main keluar, tipikal anak rumahan. Tentu itu sangat bertolak belakang dengan Rifky. Ia berharap, setiap ia pulang ke Sumedang, Fipit mau menemaninya. Atau minimal diizinkan untuk berkunjung ke rumah. Tapi ia menolak dengan berbagai alasan.

Setelah berusaha cukup lama mempertahankan hubungan mereka, akhirnya Rifky menyerah dan memilih untuk berpisah. Untuk apa pacaran kalau bertemu saja susah? Rifky seolah berlari mengejar tanpa Fipit berusaha untuk melambat menunggunya.

Rifky tak tahu bagaimana perasaan Fipit tapi yang jelas ia merasa sedih hingga tak pulang berbulan-bulan ke Sumedang. Pulang ke Sumedang hanya akan mengingatkannya pada kenangan lama. Ia lebih memilih menyepi di kosan, nonton, main game, atau bermain bersama teman yang tidak pulang kampung.

Di sisi lain Fipit malah terlihat tidak peka pada keadaan, ia masih terus menghubungi via YM jika kebetulan sedang online di eBuddy. Saat mereka putus, mereka memang sempat berjanji untuk tidak saling menjauh, tetap menjaga hubungan pertemanan. Sayangnya praktek tidak semudah teori. Kenyataannya, melihat wajah Fipit di akun YM saja membuat Rifky sedih. Ia hanya akan menjawab singkat, seperlunya jika ada chat dari Fipit.

“Hai, lagi apa?”

“Lagi diem.”

Titik.

Obrolan akan berhenti sampai di situ jika Fipit tak mencari topik pembicaraan lain. Terlihat sekali ia berusaha membuka topik pembicaraan, tapi Rifky akan menjawabnya singkat. Obrolan bagai berjalan satu arah. Lama-kelamaan Fipit mulai jarang menghubungi karena pada dasarnya memulai topik adalah hal yang susah.

Butuh waktu lama untuk membuka hati kembali. Rifky baru bisa membuka hatinya saat tingkat 2 kuliah, ia berpacaran dengan gadis di Bandung pada tahun 2009. Seingatnya pada tahun yang sama Fipit juga sudah punya pacar lagi, teman sekolahnya dulu, yang kini kuliah di kampus yang sama. Kala itu sedang ngetrend jejaring social Facebook yang cocok dijadikan tempat memantau kehidupan orang.

Hubungan Rifky dengan pacarnya di Bandung tak bisa dikatakan bagus. Sering bertengkar dan berdebat hanya karena hal sepele hingga akhirnya harus diakhiri. Ada bagian dari diri Rifky yang selalu enggan untuk serius menjalin hubungan dengan perempuan lain. Bahkan setelah itu, beberapa kali ia berpacaran hanya untuk sebuah status. Pada akhirnya Rifky merasa lelah dan bersalah. Ia tak ingin terus-menerus menyakiti perempuan yang tak tahu apa-apa. Ia ingin fokus kuliah dulu hingga lulus. Apalagi tahun depan ia sudah harus menyusun skripsi.

Skripsi jadi tantangan puncak bagi setiap mahasiswa tingkat akhir. Apalagi jurusan Informatika UNIKOM yang terkenal gampang masuk, susah lulus. Ada titik dimana Rifky membutuhkan dukungan moril sebagai penyemangatnya mengerjakan skripsi. Ia terancam pending, tidak lulus tepat waktu. Ada bagian programnya yang sangat mustahil untuk diselesaikan meskipun ia sudah begadang berhari-hari.

Di saat-saat seperti itu, entah kenapa yang terpikirkan pertama kali adalah Fipit. Mereka tidak lost contact. Mereka hanya berusaha menjaga jarak dengan membatasi komunikasi.

Rifky bukan tipe orang yang terbuka sepenuhnya kepada keluarga soal kuliah. Membiayai kuliah saja sudah susah, rasanya tak perlu lagi orang tuanya dibebani dengan kabar kurang mengenakan. Untuk beberapa hal, Rifky memang lebih percaya kepada Fipit untuk berbagi suka dan duka.

Jangan salah paham.

Saat itu, Rifky mengharapkan Fipit sebagai teman untuk mengobrol, ia tak lagi mengharapkan lebih karena terbukti, mereka tidak cocok pacaran. Fipit mungkin tidak akan membantu skripsi secara teknis. Namun setidaknya secara moril, Fipit berhasil mendongkrak semangat Rifky hingga ia semangat lagi. Dan nyatanya itu berhasil. Perlahan tapi pasti Rifky bisa menyelesaikan skripsinya hingga lulus.

Itulah alasannya mengapa 1 tahun kemudian, Rifky rela menemani Fipit saat sidang skripsi. Jauh-jauh naik motor.

Sejak saat itu mereka seolah kembali ke titik awal pertemanan mereka. Rifky yang sudah bekerja di Bandung sering mampir ke kosan Fipit untuk makan malam bersama. Nasi goreng dekat kosan Fipit jadi menu rutin mereka. Terkadang Rifky mengajaknya makan di luar saat dapat bonus atau ada voucher makan gratis dari kantor. Rifky juga memberikan surprize kecil-kecilan saat ulang tahunnya yang ke-22. Atau menjemputnya saat pulang malam dari kantor. Hal-hal sederhana dan menyenangkan yang membuat mereka berdua tetap bersama.

Rifky dan Fipit seperti menemukan hubungan yang cocok untuk mereka jalani. Hubungan pertemanan yang terus bertahan lama bertahun-tahun dan tanpa mengenal jarak. Meski pun Rifky pindah bekerja ke Cirebon pada tahun 2014, lalu ke Majalengka pada tahun 2015. Fipit pun sudah bekerja di Sumedang pada tahun 2015 dan pindah ke Patrol, Indramayu pada tahun 2016.

Jauhnya jarak Sumedang-Patrol, membuat Fipit lebih senang diantar-jemput naik motor Rifky dibanding naik mobil umum. Waktu tempuh bisa dipangkas setengahnya karena melewati jalan alternatif. Jadilah mereka serasa touring setiap minggu, menempuh jarak ratusan kilometer hingga sekarang. Ini jelas kontras sekali jika dibandingkan dulu, yang bahkan diantar ke sekolah saja ogah-ogahan.

Kini Rifky sudah lupa berapa lama waktu yang mereka habiskan bersama, berapa tempat yang sudah mereka kunjungi, berapa banyak kenangan yang sudah mereka lalui bersama.

Seiring umur yang bertambah, Rifky sering memikirkan masa depannya. Bagaimana kehidupannya 3 tahun lagi, 5 tahun lagi, dan 10 tahun lagi? Dengan siapa ia akan mengisi hari-harinya? Apa ia bahagia?

Perlahan tapi pasti, pertanyaan itu terjawab dengan perubahan sikap Fipit kepada Rifky. Hari demi hari sikapnya berubah seperti seorang pacar, baik dari segi verbal maupun tingkah laku. Panggilan sayang yang sering digunakan di masa lalu pun kembali muncul. Padahal mereka sama-sama tahu hubungan mereka hanya sebatas ‘teman’. Tidak pernah ada kata ‘pacaran’ atau ‘balikan’. Tidak ada kata ‘aku sayang kamu’ atau ‘aku cinta padamu’.

Begitupun dengan komitmen yang lebih jauh, tidak ada kata ‘Maukah kau menikah denganku?’, tapi tanpa itupun mereka sudah tahu sedang berlabuh ke arah yang sama. Mereka sudah sering mengobrol tentang masa depan, masalah finansial, masalah cita-cita, hal-hal yang lumrah diobrolkan oleh seorang pasangan  yang berencana menikah. Jadi, rasanya sudah tak perlu lagi penegasan dengan kata-kata hanya untuk membuktikan rasa sayang.

Mereka sudah bukan lagi usia anak SMA yang harus selalu mengungkapkan cinta dengan ucapan. Mereka lebih suka menunjukkannya dengan perbuatan. Gaya berhubungan mereka sudah berevolusi ke bentuk yang berbeda. Tapi nyatanya mereka lebih suka yang seperti ini.

Mereka saling menjaga, mendukung, dan saling mempercayai. Satu yang pasti, mereka memang saling menyayangi… dari dulu.

Begitulah kisah mereka. Tak pernah banyak kalimat ungkapan kasih sayang yang terlontar dari mulut mereka, mereka lebih banyak mengungkapkannya dengan tindakan. 1996-2018. Dua puluh dua tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk mengenal satu sama lain. Tanggal 5 Mei 2018 mereka memutuskan untuk menikah. Rifky sudah yakin pada keputusannya. Jika ia memejamkan matanya dan membayangkan masa depannya, sosok yang selalu terbayang adalah Fipit, dan juga berbagai kebahagiaan yang mengikutinya. Dengan menikah, mereka akan selalu menjadi teman hidup untuk selamanya.

 

The End

 

Untuk temanku, yang sebentar lagi jadi istriku, Fipit.

Review 2 Th Yamaha Xabre: Nasib Motor Kagak Laku

Odometer Xabre: 27.449 km

Odometer Xabre: 27.449 km

Disclaimer

Saya menulis review ini murni keinginan sendiri, tidak dibayar Yamaha. Kalaupun Yamaha nanti membayar saya, itu urusan belakangan.

Xabre Tahun Kedua

Halo Bre, ini adalah lanjutan dari artikel 1 tahun lalu, mengenai review motor Yamaha Xabre. Sekarang saya akan lanjut reviewnya setelah 2 tahun pemakaian.

Motor ini masih terasa nyaman di tahun kedua. Tarikan mesin masih bertenaga. Kiprok yang bermasalah tahun kemarin pun sudah tidak ada keluhan lagi setelah pakai kiprok Yamaha NMax. Hanya saja di tahun kedua ini beberapa part mulai dilakukan penggantian dan juga service:

  1. Kampas rem depan (lagi). Ini kampas ketiga.
  2. Kampas rem belakang
  3. Gear set
  4. Busi
  5. Filter udara, filter oli
  6. Servis injeksi, dll

Si Xabre jajan besar di awal tahun 2018. Tapi tidak masalah asalkan ini motor sehat terus. Mungkin memang sudah waktunya banyak part yang diganti. Selain itu, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jarak tempuh motor ini melonjak drastis. Sekitar 17.000 km/tahun. Hampir 2x lipat dari tahun pertama yang hanya 10.000 km. Wajar saja sih. Setiap minggu saya naik motor dari Majalengka-Sumedang-Patrol-Indramayu-kembali ke Majalengka yang totalnya 250 km. Belum lagi pemakaian di dalam kota dan sesekali touring.

Namun intinya, tidak ada masalah yang cukup berarti di sisi mesin. Itu teknis ya, sekarang kita bahas non teknisnya.

Xabre Motor Kagak Laku

Yamaha Xabre dilaunching di Bali pada bulan Januari 2016. Di penghujung tahun 2016, penjualannya mencapai 20.887 unit. Menjadikannya sebagai motor sport keenam terlaris di Indonesia. Tahun 2017, posisinya merosot hingga ke-10. Sepanjang tahun Xabre hanya terjual 5.030 unit saja dari  Sabang sampai Merauke. Hehehe. Miris pemirsa!

Penjualannya bahkan kalah oleh Verza sport entry level Honda dan GSX-S150 sport pendatang baru Suzuki. Bandingkan dengan kakaknya Vixion di posisi pertama yang berhasil mengapalkan 109.813 unit di tahun yang sama. Bagai langit dan bumi. Ke-tidaklaku-an Xabre tercermin di jalanan sehari-hari. Saya akan sangat-jarang-sekali berpapasan dengan motor ini. Perjalanan Majalengka-Sumedang paling hanya bertemu 1 Xabre, kadang tidak sama sekali. Bahkan kebanyakan orang tidak tahu ini motor apa, atau tidak tahu kalau motor ini ada dan diproduksi Yamaha.

“Mas, bagus ya Bison-nya. Modif dimana?”

Bukan sekali motor saya dikira Bison modif. Montir bengkel pinggir jalan juga tidak tahu saat akan mengganti kampas rem belakang jika saya tidak bilang kalau part nya sama dengan R15 atau Vixion (Sejak saat itu saya selalu ke bengkel resmi). Entah kurang promosi, iklan, atau apa. Tapi kalau disebut kurang promosi, jumlah ekspornya malah lebih besar dari Vixion. Itu artinya orang Filipina dan Vietnam tahu motor ini ada. Sepertinya memang selera orang sini beda. Pada ga tahu motor keren. Ngahahahaha…

Bukan, bukan. Rata-rata berpendapat kalau dimensi motor ini terlalu pendek dan mahal untuk kelas 150 cc.

Jadi apakah saya kecewa kalau motor ini tidak laku?

Oh, tentu tidak.

Masalah dimensi, memang motor ini kecil sehingga tangan rider menekuk dan jok penumpang pendek. Tapi justru gara-gara itu motor jadi mudah dikendalikan dan lincah. Lagi pula saya dan pacar saya langsing jadi tidak bermasalah dengan kecilnya jok Xabre. hehe. Masalah harga, itu sih tergantung orangnya. Seperti tulisan saya sebelumnya, motor ini terlalu segmented, hanya segelintir orang saja yang suka.

Saya malah senang motor ini ga laku. Jadi terkesan motor ekslusif karena jarang dan tidak pasaran.

Kalau kebetulan ketemu sesama rider Xabre di jalan, kami akan saling sapa dengan 2x klakson. Tak jarang beberapa orang rider Xabre dengan sengaja mendekat untuk sekedar basa-basi bertanya dari mana dan mau kemana. Pasti karena melihat plat Z saya yang dikira dari ujung pulau. Padahal dari Sumedang. Yaaa, rasanya mirip kaya ketemu temen/saudara di jalan lah.

Waktu awal kemunculan Xabre, saya pernah diajak bergabung dengan Xabre Owner Community. Club motor khusus rider Xabre yang punya cabang di setiap kota. Waktu itu di Sumedang anggotanya masih belasan, karena masih menginduk ke Bandung (sekarang sepertinya sudah puluhan). Berhubung saya tidak terlalu fanatik dan jarang punya waktu untuk nongkrong, saya tidak ikut bergabung. Tapi mereka bilang jangan sungkan untuk menghubungi, terutama jika terjadi hal yang tidak diinginkan di jalan, di kota manapun itu. Pesan saya akan dibroadcast di grup dan anggota yang posisinya terdekat akan datang menolong. Ahhh, kebersamaan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. It’s Brotherhood!

Rasanya rider motor lain belum tentu seperti ini. Bayangkan jika rider Vixion saling sapa di jalan. Pasti di semua jalanan protokol di Indonesia akan ramai suara klakson. Yaiyalah, ketemu terus Vixion. Hehehe. Bercanda kawan. Ini hanya pembelaan dari rider yang motornya kagak laku. Kita semua bersaudara, salam satu aspal!

Xumbre, eh sumber:

Penjualan Xabre

 

 

 

Fenomena Ojek Online

Beberapa tahun belakangan ini, dunia transportasi diramaikan dengan munculnya ojek online. Sebuah inovasi teknologi pada smartphone yang mempermudah kita dalam pemesanan ojek sehingga tidak perlu pergi ke pangkalannya jika kita membutuhkan jasa mereka. Dengan memanfaatkan fungsi GPS di smartphone, driver ojek online (ojol) akan datang menjemput ke lokasi kita.

 

Saat ada demo dan perseteruan antara ojol dan ojek biasa, saya hanya melihatnya lewat berita TV/koran. Saat itu belum ada ojol di kota saya Sumedang. Jadi saya belum bisa menikmati layanan mereka, dan belum bisa melihat efek yang ditimbulkan pada masyarakat sekitar saya.

 

Nah, berhubung sekarang sudah ada dan sudah saya coba beberapa pelayanannya, saya akan simpulkan sebagai berikut.

Kelebihan

Praktis

Saya tinggal di dalam gang yang tidak cukup masuk mobil. Motor adalah transportasi yang mayoritas digunakan di daerah saya. Jika kebetulan motor saya sedang dipakai, maka ojol akan sangat membantu. Dibanding saya harus jalan sekitar 2km untuk mencapai pangkalan ojek/jalur angkot. Angkotpun hanya beroperasi sampai jam 6 sore, dengan armada yang minim.

Tarif murah dan jelas

Dulu ketika saya kehilangan motor, ojek adalah satu-satunya transportasi saya ke kantor. Ongkos sekali jalan 10rb, sehari 20rb, sebulan berarti sekitar 500-600rb. Itu nominal yang sama dengan menyicil motor sendiri. Itu karena mang ojek main tembak ongkos tanpa ada ukuran yang baku. Jika dengan ojol, ongkos akan dihitung per km sehingga tidak ada acara tawar-menawar.

Pelayanan beragam

Ada layanan lain yang juga disertakan dalam beberapa aplikasi ojol seperti pengantaran makanan dan dokumen. Ini kadang diperlukan saat ada dokumen penting yang ketinggalan di rumah, sedangkan kita tidak bisa keluar kantor. Atau kita hanya sekedar malas untuk keluar membeli makanan, maka ojol bisa membantu.

Kekurangan

Keamanan penumpang

Para penyedia layanan ojol harus lebih optimal lagi dalam pengawasan driver-drivernya. Beberapa kali saya dan teman saya mendapati motor yang tidak sesuai dengan di akun. Atribut motor pun seadanya.

 

Namun pada dasarnya saya setuju-setuju dengan adanya moda transportasi ini. Masyarakat tidak perlu membeli kendaraan pribadi, cukup ojol saja untuk kebutuhan transportasinya. Lagi pula ojol sekarang nyaris 24 jam. Adasaja driver yang saya lihat stand by malam hari, bahkan dini hari. Kecuali kalau pemerintah sudah bisa menyediakan transportasi umum ke setiap pelosok kota di Indonesia dengan harga yang terjangkau. Pasti saya akan beralih dari kendaraan pribadi dan ojol ke transportasi umum.

Pengalaman 2 Tahun Kerja jadi Staf IT di Bank

“Enak ya kerja di bank. Pasti gajinya gede.”

Begitulah kira-kira anggapan orang awam tentang pegawai bank. Dulu saya berpikiran sama. Tapi setelah bekerja 2,5 tahun di bank sebagai staf TI, saya tak lagi sependapat. Kalau zaman dulu mungkin iya, namun kini jumlah pegawai dan profit yang dihasilkan bank tidak lagi seimbang. Ditambah dengan makin sengitnya persaingan antar bank dan fintech (financial technology). Memaksa bank untuk meminimalisir biaya tenaga kerja. Bank tidak takut kekurangan peminat. Toh, yang ngelamar ke bank tetep banyak kok karena image yang sudah terlanjur bagus di mata orang (terutama di mata calon mertua :p ).

Bukan bermaksud memandang sebelah mata bidang perkerjaan tertentu, ataupun tidak bersyukur, pekerjaan apapun adalah mulia jika dijalani dengan sungguh-sungguh. Menurut saya gaji di sektor migas dan TI, masih lebih besar (dalam satu level yang sama, misalkan fresh graduate). Lalu kenapa saya tidak kerja di perusahaan yang murni TI saja? Biar sesuai dengan latar belakang kuliah.

Pertanyaan bagus. hahaha

Sudah!

Selama rentang tahun 2012-2015 saya terus mencoba kerja di perusahaan TI, berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Tapi passion saya lebih ke IT supporting dibanding programmer atau analis karena saya kurang bagus di algoritma dan logika. Sedangkan mayoritas perusahaan TI dan startup tidak membutuhkan IT supporting. Mungkin karena setiap stafnya sudah dianggap punya basic TI jadi tidak perlu di-support lagi. IT Support justru lebih banyak dibutuhkan di perusahaan non TI. Perbedaan titel antara programmer dan IT Support itu juga yang mempengaruhi nominal gaji menjadi bagai langit dan bumi. Namun percayalah, seseorang digaji gede karena emang beban kerjanya berat. Jadi syukuri aja.

IT Support di bank masuk ke dalam kategori Staf Supporting di Back Office (BO), nama jabatannya Staf TI atau lebih sering disebut EDP (Electronic Data Processing). Berikut ini beberapa suka-duka saya menjadi staf TI di bank. Mungkin bisa jadi bahan pertimbangan bagi kalian lulusan TI yang ingin kerja di bank. Saya rasa di bank manapun fungsi Staf TI kurang lebih sama.

Continue reading

Share Pengalaman Rekrutmen bjb

Sebenernya sudah lama saya ingin share tulisan ini, yaitu pengalaman mengikuti rekrutmen bank bjb di tahun 2015. Banyak yang share pengalaman masuk bank bjb, dan bank-bank lain yang pada dasarnya tahap-tahapnya mirip. Tapi ini lebih sebagai pengingat bagi saya karena tidak terasa sudah hampir 3 tahun kerja di sini. Ini tes saya yang kedua kali. Dulu tahun 2013 sempat lulus hingga tahap wawancara namun ga pernah dipanggil lagi.

Ini pengalaman yang melelahkan tapi juga mengesankan. Nyesel juga dulu ga langsung ditulis rangkaian seleksinya, karena ternyata udah mulai lupa. Hahaha. Maklum jika tidak detil, tapi  kurang lebih alurnya sebagai berikut.

  1. Daftar di http://rekrutmen.bankbjb.co.id/ dan Seleksi Administrasi

Berawal dari informasi dibukanya pendaftaran calon pegawai bjb tahun 2015 dan berbekal rasa penasaran karena gagal sebelumnya, saya kembali mendaftarkan diri. Pendaftaran dilakukan secara online di alamat http://rekrutmen.bankbjb.co.id. Kenyataannya, banyak pelamar yang melamar ke kantor bjb terdekat. Padahal kemungkinan diterima sangat kecil. Kalaupun diterima, maka akan bekerja sebagai pegawai kontrak dan ujung-ujungnya harus tetap ikut rekrutmen jika ingin jadi pegawai tetap.

Siapkan dokumen pendukung seperti ijazah, surat keterangan lulus, pas foto, dan berkas lainnya dalam bentuk softcopy/hasil scan. Pilih 3 kota penempatan kerja dan kota lokasi untuk tes. Dulu saya pilih penempatan di kota Sumedang, Cirebon, dan Bandung, sedangkan lokasi tes di Cirebon. Kebetulan saat itu saya sudah bekerja di salah satu perusahaan swasta di Plumbon, Cirebon, jadi akan mudah jika ada panggilan tes. Jangan lupa print formulir pendaftaran akan digunakan pada tahap selanjutnya jika lolos seleksi administrasi.

Continue reading

Review Yamaha Xabre (MT-15) Setelah 1 Tahun Pemakaian

Kali ini saya akan memberikan review untuk motor Yamaha Xabre (baca: Seiber) alias MT-15 setelah 1 tahun pemakaian. Kalau liat odometer sih baru 10rb km-an.

Speedometer Xabre

Odometer Xabre: 10.394km

Saya tertarik membuat review karena baru kali ini ngurus motor dari orok, hahaha. Sebagai informasi, beberapa motor yang pernah saya pakai dalam waktu yang lumayan lama diantaranya Kharisma, Mio, Beat, dan Satria F. Jadi punya pembanding meskipun beda kelas.

Xabre adalah jawaban kegalauan saya setelah si Suzie, Satria F, saya digondol maling. Cukup bosan dengan motor bebek, matic, dan ayago, saya berniat membeli motor naked sport (saya kurang suka sport fairing). Setelah mencoba beberapa naked sport punya teman, riding positionnya cukup nyaman, pokoknya memberikan rasa yang beda dibanding bebek & matic. Jujur, saya ga terlalu ngerti mesin. Hal yang pertama dilihat cuma design. Tahun 2015 design yang bikin saya jatuh hati itu KTM Duke 200 karena bentuknya yang mirip Satria F versi sport. Tapi harganya 70jt (sekarang udah 33jt! Mewek cuy… T.T ) Dulu Duke belum dirakit di Indonesia, masih CBU. Kawasaki Ninja 250 versi Mono juga sama mahal (bagi saya). Vixion terlalu pasaran, dan dari Honda saat itu belum ada yang menawarkan design oke. Yang paling mending designnya Bison. Eh, pas keluar versi terbarunya malah ga karuan designnya. haha

Masuknya Xabre di awal 2016 jadi angin segar. Buntutnya yang pendek jadi mengingatkan saya pada Duke. Design secara keseluruhan saya nilai paling keren di kelasnya.

Tanpa pikir panjang saya beli tuh motor.

Weekly Ride bareng Xabre alias MT-15

Weekly Ride bareng Xabre: Sumedang-Indramayu.

Kelebihan

Design agresif. Sok depan UpSide Down (USD) 36mm yang membuat tampilannya kekar berotot, speedometer negative LCD digital, lampu full LED, swing arm aluminium, ban lebar (depan 110 belakang 130), electric starter khas klan MT, dan spakbor menggantung. Dulu pas awal-awal keluar, pasti jadi tontonan kalau lagi di lampu merah. hehe

Handling mantap. Meski bodinya bongsor ternyata cukup ringan. Banyaknya part plastik pada body, shroud, dan tangki mungkin jadi faktor penyebabnya. Belakangan pemakaian plastik mulai marak karena dinilai mudah dibentuk. Stang lebar dan posisi jok yang lebih maju juga turut menyumbang enaknya handling motor ini. Salip-salip di kemacetan tidak membuat motor ini sulit dikendalikan.

Nyaman. Posisi jok yang maju itu pula membuat badan tegak dan rileks. Touring diatas 400km seharian tidak akan membuat pegal meski step agak ke belakang mirip step underbone.

Feel yang baru. Naik motor ini agak berbeda dengan naked sport Yamaha yang sudah ada sebelumnya. Ada aura moge dan campuran supermoto. Didukung helm bawaan yang cocok pula.

Kekurangan

Segmented. Yamaha menyatakan kalau motor ini terinspirasi dari gaya Minor Fighter, menjadikan motor ini sangat segmented karena masalah selera. Terlihat dari jok belakang yang sangat kecil. Akan kesulitan jika membonceng orang yang badannya berisi. Motor ini akan sangat sulit dinaiki bertiga, apalagi dengan design jok yang terpisah.

Tinggi. Belum lagi seat height yang terlalu tinggi untuk saya yang tingginya 165 cm. Saya harus beli lowering kit untuk menurunkan tingginya 5cm sehingga kedua kaki bisa menapak.

Spakbor kurang fungsional. Posisi spakbor terlalu sporty sehingga tidak menjalankan fungsinya dengan sempurna. Kalau hujan, cipratan airnya akan mengenai punggung bahkan ke bagian belakang helm.

Mesin. Pada sektor mesin, tarikannya terasa ngempos di putaran atas. Gigi 6 jarang sekali dipakai. Rasanya susah pengen 120kmpj, kalah top speed bila dibanding kakaknya sendiri Vixion yang punya basis mesin sama, apalagi Satria. Tidak heran sih sebenarnya, toh klan MT dibuat oleh pabrikan dengan menonjolkan torsinya, dan itu terbukti tarikannya nampol di putaran awal.

Selain itu, minor problem yang mulai ditemukan di 1 tahun ini adalah indikator mesin yang menyala, makin hari-makin sering terutama saat mesin dingin. Setelah dicek masalahnya di kiprok, terjadi overcharge alias pengisian aki secara berlebihan. Kata teknisinya, ini masalah yang serupa dengan R15 karena tidak punya kick starter. Harganya cukup mahal kisaran 400-500rb sehingga banyak yang menyarankan disubstitusi dengan kiprok NMax, yang harganya hanya seperempatnya.

Update 25 Mei 2017: Problem solved setelah ganti pake kiprok NMax.

So, thats all. Secara keseluruhan saya puas dengan motor ini. Meski orang bilang kemahalan untuk motor 150cc, tapi kalau ngemodif sendiri dan dihitung harga per part-nya, nih motor worth banget lah. Terbayar dengan kelebihan dan kenyamanan yang saya dapat selama setahun terakhir ini. peace

Thanks for reading. See ya on the next post!

Suara Rakyat (Bukan) Suara Tuhan

Dua capres sudah tersaji di hadapan kita, jauh sebelum Ramadhan. Dua-duanya sudah menyampaikan visi, misi, dan perspektif yang dirumuskan secara konkret, maupun rada-rada absurb tentang program kerjanya. Tapi pilihan tetap di tangan kita.

Semoga Ramadhan ini bisa dijadikan momentum menyucikan diri, menjernihkan hati. Dengan mata hati yang berbinar bersih, dengan spiritualitas yang suci, dengan jiwa yang bertabur cahaya Ramadhan, semoga kita bisa terbimbing untuk memilih pemimpin yang bersih dan terbaik untuk negeri ini.

Bisa saja bias, tak jelas mana loyang mana emas. Tapi yang jiwanya disinari cahayanya dan berhati emas, tak akan tertipu tutur kata sekilas, tak akan silap oleh pandang selintas dan tak akan terbuai dengan sepintas janji-janji dari tokoh yang culas, sehingga mampu memilih pemimpin bernas dan berhati emas.

Betul, vox populi vox day, suara rakyat suara Tuhan. Suara rakyat mesti dihargai sebagai penyampai kehendak Ilahi. Tapi siapa yang culas, menabur kekayaannya dan merasa mampu membeli suara rakyat tak peduli itu menodai kesucian Ramadhan, percayalah kalian tetap tak akan mampu membeli suara Tuhan.

Maman Suherman, Indonesia Lawak Klub, Trans 7, 2 Juli 2014