Ciri-ciri Kedewasaan Yang Sesungguhnya

Sebenarnya udah lama gue pengen posting tulisan ini. Tapi apa daya baru kesampean sekarang. Berawal dari iseng-iseng baca postingan lama, malah senyum-senyum sendiri kayak orang gila. haaha..  Karena gue ngerasa betapa ‘childish’ nya gue 2 tahun lalu. Sahabat gue bilang kalo gue kelihatan dewasa sekarang. Masa ia? Entahlah, yang tau cuma orang-orang disekitar gue.

Marc & Angel (2007) mengemukakan bahwa kedewasaan seseorang bukanlah terletak pada ukuran usianya, tetapi justru pada sejauhmana tingkat kematangan emosional yang dimilikinya. Berikut ini pemikirannya tentang ciri-ciri atau karakteristik kedewasaan seseorang yang sesungguhnya dilihat dari kematangan emosionalnya.

1. Realizing that maturity is an ongoing process, not a state, and continuously striving for self improvement. (Tumbuhnya kesadaran bahwa kematangan bukanlah suatu keadaan tetapi merupakan sebuah proses berkelanjutan dan secara terus menerus berupaya melakukan perbaikan dan peningkatan diri).

2. Able to manage personal jealousy and feelings of envy. (Memiliki kemampuan mengelola diri dari perasaan cemburu dan iri hati).

3. Has the ability to listen to and evaluate the viewpoints of others. (Memiliki kemampuan untuk mendengarkan dan mengevaluasi dari sudut pandang orang lain).

4. Maintains patience and flexibility on a daily basis. (Memiliki kemampuan memelihara kesabaran dan fleksibilitas dalam kehidupan sehari-hari).

5. Accepts the fact that you can’t always win, and learns from mistakes instead of whining about the outcome. (Memiliki kemampuan menerima fakta bahwa seseorang tidak selamanya dapat menjadi pemenang dan mau belajar dari berbagai kesalahan dan kekeliruan atas berbagai hasil yang telah dicapai).

6. Does not overanalyze negative points, but instead looks for the positive points in the subject being analyzed. (Tidak berusaha menganalisis secara berlebihan atas hasil-hasil negatif yang diperolehnya, tetapi justru dapat memandangnya sebagai hal yang positif tentang keberadaan dirinya).

7. Is able to differentiate between rational decision making and emotional impulse. (Memiliki kemampuan membedakan antara pengambilan keputusan rasional dengan dorongan emosionalnya (emotional impulse)).

8. Understands that no skill or talent can overshadow the act of preparation. (Memahami bahwa tidak akan ada kecakapan atau kemampuan tanpa adanya tindakan persiapan).

9. Capable of managing temper and anger. (Memiliki kemampuan mengelola kesabaran dan kemarahan).

10. Keeps other people’s feeling in mind and limits selfishness. (Memiliki kemampuan menjaga perasaan orang lain dalam benaknya dan berusaha membatasi sikap egois).

11. Being able to distinguish between ‘needs’ and ‘wants’. (Memiliki kemampuan membedakan antara kebutuhan (needs) dengan keinginan (wants)).

12. Shows confidence without being overly arrogant. (Memiliki kemampuan menampilkan keyakinan diri tanpa menunjukkan sikap arogan (sombong)).

13. Handles pressure with self composure. (Memiliki kemampuan mengatasi setiap tekanan (pressure) dengan penuh kesabaran).

14. Takes ownership and responsibility of personal actions. (Berusaha memperoleh kepemilikan (ownership) dan bertanggungjawab atas setiap tindakan pribadi).

15. Manages personal fears. (Mengelola ketakutan diri).

16. Able to see the various shades of grey between the extremes of black and white in every situation. (Dapat melihat berbagai ‘bayangan abu-abu’ diantara ekstrem hitam dan putih dalam setiap situasi).

17. Accepts negative feedback as a tool for self improvement. (Memiliki kemampuan menerima umpan balik negatif sebagai alat untuk perbaikan diri).

18. Aware of personal insecurities and self-esteem. (Memiliki kesadaran akan ketidakamanan diri dan harga diri).

19. Able to separate true love from transitory infatuation. (Memiliki kemampuan memisahkan perasaan cinta dengan berahi sesaat).

20. Understanding that open communication is the key to progression. (Memahami bahwa komunikasi terbuka adalah kunci kemajuan).

Sumber dan terjemahan bebas dari: http://www.marcandangel.com/2007/08/17/what-is-adulthood-20-defining-characteristics-of-a-true-adult/


2 thoughts on “Ciri-ciri Kedewasaan Yang Sesungguhnya

    • ketidakamanan: kondisi tidak aman / dalam bahaya. Jadi no 18 itu kurang lebih artinya: menyadari saat ada bahaya yang mengancam diri (secara fisik), maupun mengancam harga diri (nama baik).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s