22 Years of Friendship

“Apa kalian pacaran?”

Itu adalah pertanyaan yang paling sering dilontarkan kepada Rifky akhir-akhir ini. Bosan mendengarnya.

“Temenan doang.”

“Bullshit! Mana ada orang bolos kerja buat liat teman perempuannya sidang skripsi. Cirebon-Bandung jauh bos, naik motor pula. Mustahil temen doang.”

Rifky tertawa menanggapinya. Ia yang sudah bekerja di perusahaan swasta di Cirebon sengaja datang jauh-jauh untuk memberikan support kepada Fipit, teman perempuan yang sudah dikenal lebih dari separuh usianya. Fipit sedang sidang skripsi di Kampus UPI Bandung. Kebetulan Rifky bertemu teman lamanya di kampus tersebut.

“Demi temen lah,” jawab Rifky santai.

“Bulan kemarin gue sidang, lu ga bela-belain kesini.”

“Hahaha, beda lah bro.”

Pernyataan teman Rifky itu memang ada benarnya. Rifky tak bisa mengelak. Akhirnya ia hanya menanggapinya dengan tawa. Rifky tak mau membahas lagi pertanyaan temannya itu. Jujur saja, ia sendiri bingung dengan status hubungannya dengan Fipit. Mereka berteman, tapi tingkah keduanya menggambarkan hubungan yang lebih dari itu. Hal tersebut sudah berlangsung lama.

Kalau diingat lagi, mereka memang sudah lama saling mengenal.

Terlalu lama…

Rifky dan Fipit pertama kali bertemu di taman kanak-kanak. Saat itu mereka masuk sekolah taman kanak-kanak yang sama di Sumedang pada tahun 1996. Awalnya mereka tak begitu akrab. Hingga masuk ke sekolah dasar yang sama pun, Rifky tak mencoba untuk mengakrabkan diri meskipun mereka saling kenal dan berada di satu bangunan yang sama. Rifky memang jarang bergaul dengan perempuan sehingga berinteraksi dengan Fipit adalah hal yang terasa aneh untuknya.

Sekitar tahun 2000, keluarga Fipit pindah rumah ke dekat rumah Rifky, hanya berjarak 500 meter saja ke arah selatan. Sering sekali mereka secara kebetulan berangkat sekolah bersama meskipun tidak saling bertegur sapa. Keadaan itu berlangsung cukup lama hingga membuat Rifky terbiasa melihat kehadiran Fipit di dekatnya.

Menjelang kelulusan sekolah dasar, beredar kabar di teman-teman mereka kalau ternyata Fipit menyukai Rifky. Ah, cinta monyet, pikirnya saat itu. Perempuan memang lebih cepat dewasa dibanding laki-laki. Rifky tak terlalu peduli. Di saat yang sama dipikirannya hanya ada bermain kelereng dan tazos,  bukan cinta-cintaan. Sebenarnya ia cukup merasa risih dengan beredarnya kabar tersebut. Tapi toh sebentar lagi ia akan lulus dan masuk SMP. Jadi lebih baik cuek saja, seolah tak tahu.

Rifky masuk ke SMP 1 Sumedang pada tahun 2003 karena lokasinya paling dekat rumah. Murid yang lain kebanyakan masuk ke SMP 2, termasuk Fipit. Hari-hari selanjutnya berjalan begitu damai tanpa ribut-ribut gosip. Rifky bisa sekolah dan bermain tanpa ada ‘gangguan’ dari Fipit karena mereka beda sekolah. Kesibukan di SMP pun membuat mereka jarang bertemu. Rifky lulus SMP pada tahun 2005, satu tahun lebih cepat dari seharusnya karena ikut kelas akselerasi.

Rifky meneruskan sekolah ke SMA 1 Sumedang. Seiring waktu ia menjalani masa SMA, Rifky mulai sadar kalau ada sosok yang hilang dalam hari-harinya, sosok Fipit yang sudah lama tidak ia lihat selama 2 tahun ini. Aneh memang, padahal rumah mereka dekat. Tapi kenyataannya Fipit selalu terlihat sibuk sehingga mereka sangat jarang bertemu.

Sejak saat itu Rifky mulai mengamati jam berapa Fipit pulang ke rumah. Ternyata ia pulang sekitar jam 3 sore, sepertinya mampir dulu ke rumah saudaranya. Rumah Fipit lebih jauh sehingga mau tak mau, setiap pulang  akan lewat ke dekat rumah Rifky. Jadilah sejak saat itu pada jam 3 sore pandangan Rifky akan selalu tertuju pada jalur yang biasa dilalui Fipit. Entah itu saat sedang bermain, ataupun sedang ada di balkon lantai 2 rumahnya. Kalau begini ia seperti stalker yang mengamati Fipit terus-menerus. Kesenangan Rifky hilang saat Fipit hilang di persimpangan jalan. Ia hanya berharap bisa melihat Fipit lagi besok sore.

Kebiasaan aneh itu terus berlanjut. Orang mungkin menilai itu kegiatan yang buang-buang waktu, hanya untuk melihat orang lain dari kejauhan. Wajahnya saja tidak terlihat jelas. Namun ada rasa senang yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Seolah-olah Rifky menemukan kembali sosok yang hilang dari hidupnya.

Tahun 2006, tiba saatnya penerimaan siswa baru di SMA 1 Sumedang. Momen yang ditunggu bagi sebagian anak kelas 2 dan 3 untuk menonton, mencari target gebetan baru. Rifky pun terlihat melakukan hal yang sama, namun bedanya, Rifky bukan mencari gebetan, ia hanya sedang mencari dimana keberadaan temannya di antara ratusan siswa baru yang sedang berbaris di lapangan upacara. Ia yakin Fipit akan masuk ke sekolah yang sama. Tidak memerlukan waktu lama untuk mencarinya. Rifky menemukan sosok yang dicarinya, sosok yang familiar di otaknya. Menyenangkan sekali bisa melihat sosok yang selama ini dilihatnya dari kejauhan, kini berada sangat dekat dengannya.

Fipit telah tumbuh dewasa, rambutnya kini panjang terurai, wajahnya melancip tak lagi bulat seperti saat di sekolah dasar. Rifky jadi senyum-senyum sendiri melihat betapa 3 tahun ini telah membuat sosok mereka berbeda.

Rifky berpikir, melihat sosoknya saja kini tak lagi cukup, ia ingin memperbaiki hubungan mereka yang terkesan kaku di masa lalu. Mengobrol secara langsung atau meminta nomor HP-nya secara frontal kepada orangnya, dikhawatirkan membuat Fipit tak nyaman. Apalagi kesan cowok cuek sudah terlanjur melekat di sosok Rifky. Rifky akhirnya meminta nomor Fipit ke teman satu kelasnya. Tak sulit karena sebenarnya teman Fipit itu teman Rifky juga karena dulu mereka satu angkatan.

Malam itu, Rifky menyapa Fipit lewat SMS. Namun jawaban Fipit sangat jauh dari ekspektasinya.

“Rifky yang mana ya? Emang aku kenal kamu?” balas Fipit.

Oh, ingin rasanya Rifky membanting HP. Ia sudah memprediksi balasan Fipit akan ketus, namun tidak separah ini. Dengan bermodal kesabaran yang tersisa, Rifky mencoba menjelaskan siapa dirinya.

“Ini Rifky, temen SD kamu. Lupa?”

“Temen aku? Yang mana sih?”

“Astaga, rumah kita beda 5oo m. Jangan pura-pura ga tau deh,” balas Rifky mulai emosi.

“Owhh, Rifky itu…”

Belakangan diketahui kalau Fipit hanya memberi pelajaran kepada Rifky yang dulu cuek dan jutek kepadanya.

Tak butuh waktu lama sampai mereka dekat kembali karena pada dasarnya mereka sudah saling mengenal sejak lama. Setiap malam mereka akan mengobrol lewat SMS dan sesekali lewat telpon. Sering mereka mengobrol hingga larut malam, menceritakan saat-saat mereka jarang bertemu. Fipit mengaku kalau dulu dia sempat kesal kepada Rifky karena menjauhinya, sikap Rifky yang cuek membuatnya muak. Ia akhirnya berusaha melupakan Rifky sejak mereka berbeda sekolah. Sebaliknya, Rifky bicara blak-blakan pada Fipit kalau ia memang kesepian saat mereka jarang bertemu. Maklum saja, di blok tempat tinggal mereka, hanya mereka berdua yang sebaya. Remaja lainnya kurang klop diajak mengobrol karena usia mereka ada jauh di bawah atau di atas mereka.

Dari obrolan mereka, Rifky mendapatkan gambaran kalau Fipit yang sekarang tidak ekspresif seperti dulu. Dia sudah lebih kalem. Cara dirinya memaafkan Rifky juga jadi bukti kalau kini ia jadi lebih dewasa dan mudah memaafkan. Dia justru menertawai Rifky karena terlalu berpikir jauh dengan menyiapkan kata-kata panjang hanya untuk meminta maaf.

Di sore hari, Rifky pun sudah tak segan lagi untuk melambaikan tangannya ketika Fipit lewat di dekat rumahnya. Dari kejauhan, Fipit membalas lambaian tangannya.

Hari demi hari, mereka semakin dekat. Tepatnya, Rifky yang selalu berusaha ada di dekat Fipit. Matanya akan selalu menyisir sekitar kelas Fipit, melihat jika ada lelaki lain yang berusaha mendekatinya. Kelas Rifky berada berada di lantai 2, sedangkan Fipit di lantai 1 sehingga mudah melakukannya. Aneh memang. Padahal di saat yang sama Rifky sedang dekat dengan perempuan lain. Meskipun tetap saja saat ada 2 SMS yang masuk secara bersamaan, maka Fipit akan jadi prioritas pertama. SMSnya akan dibalas duluan, sedangkan SMS lain akan terlupakan. Rifky tak tahu apa yang mendorongnya untuk melakukan semua itu. Seolah semuanya terjadi tanpa terkendali.

Di tahun ketiga SMA, Rifky mulai khawatir kehilangan Fipit untuk kedua kalinya. Ia sudah diterima kuliah di UNIKOM Bandung, dan hanya punya waktu beberapa bulan lagi di SMA. Setelah ia kuliah di Bandung, tentu mereka akan jarang bertemu.

Rifky yakin perasaannya bukan sekedar peduli kepada seorang teman, melainkan lebih dari itu. Tepat sebelum kuliah di Bandung, Rifky menyatakan cintanya kepada Fipit.

Dan Fipit menolaknya mentah-mentah.

“Kamu tuh lebih enak jadi temen.”

Rifky merasa aneh. Jika benar dulu Fipit menyukainya, kenapa sekarang ia menolak? Padahal sekarang Rifky sudah siap. Apa rasa sukanya dulu hanya sebatas kagum saja ? Atau rasa suka sesaat yang hilang terkikis oleh kecuekan Rifky di masa lalu?

“Tapi aku ga mau cuma temen,” ujar Rifky keras kepala.

“Pacaran itu ada resiko putus, aku takut kita putus dan ga bisa temenan lagi,” jelasnya.

Butuh waktu berhari-hari untuk meyakinkan Fipit hingga akhirnya menyetujui juga mereka berpacaran.

Bagi Rifky, Fipit menjadi mood booster, penyemangatnya untuk pulang ke Sumedang. Ia nyaris pulang setiap minggu. Ia tak tahu kalau ia akan sangat merindukan gadis pujaannya itu padahal hanya berpisah seminggu, itupun setiap malam mereka selalu menghubungi lewat YM/telepon.

Berbulan-bulan hubungan mereka berjalan, namun Rifky mulai merasa ada yang tak beres. Ia mulai merasa jenuh.

Fipit tidak seperti yang ada di bayangannya. Gadis itu sangat sulit untuk diajak main keluar, tipikal anak rumahan. Tentu itu sangat bertolak belakang dengan Rifky. Ia berharap, setiap ia pulang ke Sumedang, Fipit mau menemaninya. Atau minimal diizinkan untuk berkunjung ke rumah. Tapi ia menolak dengan berbagai alasan.

Setelah berusaha cukup lama mempertahankan hubungan mereka, akhirnya Rifky menyerah dan memilih untuk berpisah. Untuk apa pacaran kalau bertemu saja susah? Rifky seolah berlari mengejar tanpa Fipit berusaha untuk melambat menunggunya.

Rifky tak tahu bagaimana perasaan Fipit tapi yang jelas ia merasa sedih hingga tak pulang berbulan-bulan ke Sumedang. Pulang ke Sumedang hanya akan mengingatkannya pada kenangan lama. Ia lebih memilih menyepi di kosan, nonton, main game, atau bermain bersama teman yang tidak pulang kampung.

Di sisi lain Fipit malah terlihat tidak peka pada keadaan, ia masih terus menghubungi via YM jika kebetulan sedang online di eBuddy. Saat mereka putus, mereka memang sempat berjanji untuk tidak saling menjauh, tetap menjaga hubungan pertemanan. Sayangnya praktek tidak semudah teori. Kenyataannya, melihat wajah Fipit di akun YM saja membuat Rifky sedih. Ia hanya akan menjawab singkat, seperlunya jika ada chat dari Fipit.

“Hai, lagi apa?”

“Lagi diem.”

Titik.

Obrolan akan berhenti sampai di situ jika Fipit tak mencari topik pembicaraan lain. Terlihat sekali ia berusaha membuka topik pembicaraan, tapi Rifky akan menjawabnya singkat. Obrolan bagai berjalan satu arah. Lama-kelamaan Fipit mulai jarang menghubungi karena pada dasarnya memulai topik adalah hal yang susah.

Butuh waktu lama untuk membuka hati kembali. Rifky baru bisa membuka hatinya saat tingkat 2 kuliah, ia berpacaran dengan gadis di Bandung pada tahun 2009. Seingatnya pada tahun yang sama Fipit juga sudah punya pacar lagi, teman sekolahnya dulu, yang kini kuliah di kampus yang sama. Kala itu sedang ngetrend jejaring social Facebook yang cocok dijadikan tempat memantau kehidupan orang.

Hubungan Rifky dengan pacarnya di Bandung tak bisa dikatakan bagus. Sering bertengkar dan berdebat hanya karena hal sepele hingga akhirnya harus diakhiri. Ada bagian dari diri Rifky yang selalu enggan untuk serius menjalin hubungan dengan perempuan lain. Bahkan setelah itu, beberapa kali ia berpacaran hanya untuk sebuah status. Pada akhirnya Rifky merasa lelah dan bersalah. Ia tak ingin terus-menerus menyakiti perempuan yang tak tahu apa-apa. Ia ingin fokus kuliah dulu hingga lulus. Apalagi tahun depan ia sudah harus menyusun skripsi.

Skripsi jadi tantangan puncak bagi setiap mahasiswa tingkat akhir. Apalagi jurusan Informatika UNIKOM yang terkenal gampang masuk, susah lulus. Ada titik dimana Rifky membutuhkan dukungan moril sebagai penyemangatnya mengerjakan skripsi. Ia terancam pending, tidak lulus tepat waktu. Ada bagian programnya yang sangat mustahil untuk diselesaikan meskipun ia sudah begadang berhari-hari.

Di saat-saat seperti itu, entah kenapa yang terpikirkan pertama kali adalah Fipit. Mereka tidak lost contact. Mereka hanya berusaha menjaga jarak dengan membatasi komunikasi.

Rifky bukan tipe orang yang terbuka sepenuhnya kepada keluarga soal kuliah. Membiayai kuliah saja sudah susah, rasanya tak perlu lagi orang tuanya dibebani dengan kabar kurang mengenakan. Untuk beberapa hal, Rifky memang lebih percaya kepada Fipit untuk berbagi suka dan duka.

Jangan salah paham.

Saat itu, Rifky mengharapkan Fipit sebagai teman untuk mengobrol, ia tak lagi mengharapkan lebih karena terbukti, mereka tidak cocok pacaran. Fipit mungkin tidak akan membantu skripsi secara teknis. Namun setidaknya secara moril, Fipit berhasil mendongkrak semangat Rifky hingga ia semangat lagi. Dan nyatanya itu berhasil. Perlahan tapi pasti Rifky bisa menyelesaikan skripsinya hingga lulus.

Itulah alasannya mengapa 1 tahun kemudian, Rifky rela menemani Fipit saat sidang skripsi. Jauh-jauh naik motor.

Sejak saat itu mereka seolah kembali ke titik awal pertemanan mereka. Rifky yang sudah bekerja di Bandung sering mampir ke kosan Fipit untuk makan malam bersama. Nasi goreng dekat kosan Fipit jadi menu rutin mereka. Terkadang Rifky mengajaknya makan di luar saat dapat bonus atau ada voucher makan gratis dari kantor. Rifky juga memberikan surprize kecil-kecilan saat ulang tahunnya yang ke-22. Atau menjemputnya saat pulang malam dari kantor. Hal-hal sederhana dan menyenangkan yang membuat mereka berdua tetap bersama.

Rifky dan Fipit seperti menemukan hubungan yang cocok untuk mereka jalani. Hubungan pertemanan yang terus bertahan lama bertahun-tahun dan tanpa mengenal jarak. Meski pun Rifky pindah bekerja ke Cirebon pada tahun 2014, lalu ke Majalengka pada tahun 2015. Fipit pun sudah bekerja di Sumedang pada tahun 2015 dan pindah ke Patrol, Indramayu pada tahun 2016.

Jauhnya jarak Sumedang-Patrol, membuat Fipit lebih senang diantar-jemput naik motor Rifky dibanding naik mobil umum. Waktu tempuh bisa dipangkas setengahnya karena melewati jalan alternatif. Jadilah mereka serasa touring setiap minggu, menempuh jarak ratusan kilometer hingga sekarang. Ini jelas kontras sekali jika dibandingkan dulu, yang bahkan diantar ke sekolah saja ogah-ogahan.

Kini Rifky sudah lupa berapa lama waktu yang mereka habiskan bersama, berapa tempat yang sudah mereka kunjungi, berapa banyak kenangan yang sudah mereka lalui bersama.

Seiring umur yang bertambah, Rifky sering memikirkan masa depannya. Bagaimana kehidupannya 3 tahun lagi, 5 tahun lagi, dan 10 tahun lagi? Dengan siapa ia akan mengisi hari-harinya? Apa ia bahagia?

Perlahan tapi pasti, pertanyaan itu terjawab dengan perubahan sikap Fipit kepada Rifky. Hari demi hari sikapnya berubah seperti seorang pacar, baik dari segi verbal maupun tingkah laku. Panggilan sayang yang sering digunakan di masa lalu pun kembali muncul. Padahal mereka sama-sama tahu hubungan mereka hanya sebatas ‘teman’. Tidak pernah ada kata ‘pacaran’ atau ‘balikan’. Tidak ada kata ‘aku sayang kamu’ atau ‘aku cinta padamu’.

Begitupun dengan komitmen yang lebih jauh, tidak ada kata ‘Maukah kau menikah denganku?’, tapi tanpa itupun mereka sudah tahu sedang berlabuh ke arah yang sama. Mereka sudah sering mengobrol tentang masa depan, masalah finansial, masalah cita-cita, hal-hal yang lumrah diobrolkan oleh seorang pasangan  yang berencana menikah. Jadi, rasanya sudah tak perlu lagi penegasan dengan kata-kata hanya untuk membuktikan rasa sayang.

Mereka sudah bukan lagi usia anak SMA yang harus selalu mengungkapkan cinta dengan ucapan. Mereka lebih suka menunjukkannya dengan perbuatan. Gaya berhubungan mereka sudah berevolusi ke bentuk yang berbeda. Tapi nyatanya mereka lebih suka yang seperti ini.

Mereka saling menjaga, mendukung, dan saling mempercayai. Satu yang pasti, mereka memang saling menyayangi… dari dulu.

Begitulah kisah mereka. Tak pernah banyak kalimat ungkapan kasih sayang yang terlontar dari mulut mereka, mereka lebih banyak mengungkapkannya dengan tindakan. 1996-2018. Dua puluh dua tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk mengenal satu sama lain. Tanggal 5 Mei 2018 mereka memutuskan untuk menikah. Rifky sudah yakin pada keputusannya. Jika ia memejamkan matanya dan membayangkan masa depannya, sosok yang selalu terbayang adalah Fipit, dan juga berbagai kebahagiaan yang mengikutinya. Dengan menikah, mereka akan selalu menjadi teman hidup untuk selamanya.

 

The End

 

Untuk temanku, yang sebentar lagi jadi istriku, Fipit.

Pengalaman 2 Tahun Kerja jadi Staf IT di Bank

“Enak ya kerja di bank. Pasti gajinya gede.”

Begitulah kira-kira anggapan orang awam tentang pegawai bank. Dulu saya berpikiran sama. Tapi setelah bekerja 2,5 tahun di bank sebagai staf TI, saya tak lagi sependapat. Kalau zaman dulu mungkin iya, namun kini jumlah pegawai dan profit yang dihasilkan bank tidak lagi seimbang. Ditambah dengan makin sengitnya persaingan antar bank dan fintech (financial technology). Memaksa bank untuk meminimalisir biaya tenaga kerja. Bank tidak takut kekurangan peminat. Toh, yang ngelamar ke bank tetep banyak kok karena image yang sudah terlanjur bagus di mata orang (terutama di mata calon mertua :p ).

Bukan bermaksud memandang sebelah mata bidang perkerjaan tertentu, ataupun tidak bersyukur, pekerjaan apapun adalah mulia jika dijalani dengan sungguh-sungguh. Menurut saya gaji di sektor migas dan TI, masih lebih besar (dalam satu level yang sama, misalkan fresh graduate). Lalu kenapa saya tidak kerja di perusahaan yang murni TI saja? Biar sesuai dengan latar belakang kuliah.

Pertanyaan bagus. hahaha

Sudah!

Selama rentang tahun 2012-2015 saya terus mencoba kerja di perusahaan TI, berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Tapi passion saya lebih ke IT supporting dibanding programmer atau analis karena saya kurang bagus di algoritma dan logika. Sedangkan mayoritas perusahaan TI dan startup tidak membutuhkan IT supporting. Mungkin karena setiap stafnya sudah dianggap punya basic TI jadi tidak perlu di-support lagi. IT Support justru lebih banyak dibutuhkan di perusahaan non TI. Perbedaan titel antara programmer dan IT Support itu juga yang mempengaruhi nominal gaji menjadi bagai langit dan bumi. Namun percayalah, seseorang digaji gede karena emang beban kerjanya berat. Jadi syukuri aja.

IT Support di bank masuk ke dalam kategori Staf Supporting di Back Office (BO), nama jabatannya Staf TI atau lebih sering disebut EDP (Electronic Data Processing). Berikut ini beberapa suka-duka saya menjadi staf TI di bank. Mungkin bisa jadi bahan pertimbangan bagi kalian lulusan TI yang ingin kerja di bank. Saya rasa di bank manapun fungsi Staf TI kurang lebih sama.

Continue reading

Share Pengalaman Rekrutmen bjb

Sebenernya sudah lama saya ingin share tulisan ini, yaitu pengalaman mengikuti rekrutmen bank bjb di tahun 2015. Banyak yang share pengalaman masuk bank bjb, dan bank-bank lain yang pada dasarnya tahap-tahapnya mirip. Tapi ini lebih sebagai pengingat bagi saya karena tidak terasa sudah hampir 3 tahun kerja di sini. Ini tes saya yang kedua kali. Dulu tahun 2013 sempat lulus hingga tahap wawancara namun ga pernah dipanggil lagi.

Ini pengalaman yang melelahkan tapi juga mengesankan. Nyesel juga dulu ga langsung ditulis rangkaian seleksinya, karena ternyata udah mulai lupa. Hahaha. Maklum jika tidak detil, tapi  kurang lebih alurnya sebagai berikut.

  1. Daftar di http://rekrutmen.bankbjb.co.id/ dan Seleksi Administrasi

Berawal dari informasi dibukanya pendaftaran calon pegawai bjb tahun 2015 dan berbekal rasa penasaran karena gagal sebelumnya, saya kembali mendaftarkan diri. Pendaftaran dilakukan secara online di alamat http://rekrutmen.bankbjb.co.id. Kenyataannya, banyak pelamar yang melamar ke kantor bjb terdekat. Padahal kemungkinan diterima sangat kecil. Kalaupun diterima, maka akan bekerja sebagai pegawai kontrak dan ujung-ujungnya harus tetap ikut rekrutmen jika ingin jadi pegawai tetap.

Siapkan dokumen pendukung seperti ijazah, surat keterangan lulus, pas foto, dan berkas lainnya dalam bentuk softcopy/hasil scan. Pilih 3 kota penempatan kerja dan kota lokasi untuk tes. Dulu saya pilih penempatan di kota Sumedang, Cirebon, dan Bandung, sedangkan lokasi tes di Cirebon. Kebetulan saat itu saya sudah bekerja di salah satu perusahaan swasta di Plumbon, Cirebon, jadi akan mudah jika ada panggilan tes. Jangan lupa print formulir pendaftaran akan digunakan pada tahap selanjutnya jika lolos seleksi administrasi.

Continue reading

Pesan Untuk Rifky Di Masa Depan

Terinspirasi dari Kousaka Kirino @ Oreimo © Tsukasa Fushimi

 

Kepada Rifky di masa depan.

 

Bagaimana kabarmu hari ini Rifky? Aku harap kau baik-baik saja.

Alasan kutulis pesan ini adalah sebagai pengingat keadaanku sekarang, betapa kekanak-kanakannya aku saat ini.

 

Kepada Rifky yang sedang membaca tulisan ini,

sudah mampukah kau mengelola kesabaranmu dengan baik?

Mampukah kau menjaga perasaan orang lain dan membatasi sikap egoismu?

Mampukah kau mengevaluasi masalah dari sudut pandang orang lain?

Mampukah kau membedakan antara kebutuhan dengan keinginan?

Mampukah kau menampilkan keyakinan diri tanpa menunjukkan sikap arogan?

Mampukah kau mengatasi setiap tekanan (pressure) dengan penuh kesabaran?

Dan yang paling penting,

mampukah kau mengambil keputusan rasional di setiap masalah yang kau hadapi?

Lalu mampukah kau melupakan dorongan emosional yang sering kali muncul?

 

Aku menanyakan semua itu karena sampai tulisan ini kutulis, aku belum bisa melakukan semua itu dengan baik.

Bagaimana denganmu? Apa kau sudah mampu melakukan hal-hal tersebut?

 

Aku berharap kau sudah mampu melakukannya. Aku akan sangat senang jika memang kau sudah mampu melakukannya. Tapi jika belum, jangan sedih. Selalu ingatkan dirimu bahwa kedewasaan bukanlah suatu keadaan, tetapi merupakan sebuah proses berkelanjutan dan secara terus menerus berupaya melakukan perbaikan dan peningkatan diri. Jadi kuharap setiap kau membaca tulisan ini, kau selalu berusaha menjadi lebih baik dari kita di masa lalu, dariku di masa sekarang, dan dari Rifky-Rifky lain sebelum kau yang sekarang.

 

Selamat berjuang!

 

-Rifky-

Sahabat Dalam Mimpi

Jadi seneng nulis tentang mimpi. Mungkin karena ga ada kerjaan aja sih. Haha. Ah, abaikan. Tulisan kali ini tentang mimpi kemarin lusa, 25 Maret 2013.

Untuk kesekian kalinya bermimpi jadi anak kecil. Tapi kali ini sedikit berbeda. Jika biasanya mimpi ketemu sahabat-sahabat SD/SMP dan seneng-seneng bareng mereka. Kali ini justru suasananya agak kelam.

Dalam mimpi saya ketemu seorang cewek cantik yang sedang sedih. Dia (ceritanya) sahabat saya dan kami udah kenal lama. Seperti tipikal mimpi-mimpi pada umumnya, ceritanya kurang jelas, loncat sana-sini. Kadang kami main, kadang dia sedih, kadang dia ketawa, kadang kami berantem. Tapi satu yang pasti, fisik cewek itu rasanya familiar.

Rambutnya merah panjang, wajah putih, matanya biru, usia sekitar 16 tahun. Awalnya ga nyadar, tapi pas udah bangun kok cewek itu mirip… Uzumaki Kushina!

Uzumaki Kushina

Uzumaki Kushina

Hahaha. Ga tau kenapa bisa dia yang muncul. Karakter favorit aja bukan. Tapi bukan mimpi namanya kalo ga aneh. Ya ‘kan?

 

Rasanya Cabut Gigi Itu… GA SAKIT!

Sebenarnya ini pengalaman tahun lalu, tapi ga ada salahnya berbagi. Sebelum cerita ke masalah pencabutan gigi, saya jelasin dulu alasan kenapa gigi saya harus dicabut. Alasannya karena gigi geraham bungsu saya ternyata tumbuhnya ga normal.

Gigi Bungsu

Mungkin ada yang belum tahu apa itu gigi geraham bungsu. Gigi geraham bungsu adalah gigi geraham ketiga yang muncul pada usia sekitar 17-21 tahun. Gigi bungsu termasuk dalam kategori struktur vestigial, yaitu struktur yang fungsi awalnya menjadi hilang atau berkurang sejalan dengan evolusi. Banyak ahli berpendapat bahwa perubahan jenis makanan pada manusia modern dari mentah menjadi dimasak membuat makanan lebih lunak. Selain itu, pemeliharaan gigi modern mengalami kemajuan pesat. Akibatnya kerusakan pada gigi berkurang. Kehadiran gigi bungsu yang diperkirakan dapat membantu bila ada geraham lain yang tanggal menjadi tidak berguna, malah pada kebanyakan orang menjadi masalah.

Saya adalah termasuk yang punya masalah sama gigi bungsu.  😦

Saya mulai curiganya saat gigi bungsu ke-3 yang posisinya di bawah-kanan mulai tumbuh (gigi bungsu totalnya 4: atas 2, bawah 2). Ini gigi pas tumbuhnya nyiksa banget. Sakiittt… Beda sama 2 gigi bungsu atas yang udah duluan tumbuh. Apalagi waktu itu saya lagi nyusun skripsi. Kebayang dong, udah pusing diomelin dosen pembimbing di kampus, revisian skripsi banyak, gigi senut-senut pula. Lengkap sudah penderitaan.

Continue reading

Mimpi Yang Kelewat Nyata

Mimpiku beberapa malam lalu benar-benar aneh. Bukan karena isinya yang konyol. Tapi karena mimpi itu sangat detail, memiliki alur yang jelas dan terlihat seperti film. Ga usah panjang lebar lagi ini dia rangkuman dari mimpi itu.

Pada suatu hari aku bersama 5 orang temanku, sebut saja A, B, C, D, dan E mengadakan survival ke sebuah hutan yang ceritanya belum pernah terjamah manusia. Saat itu yang berinisiatif pertama kali adalah A. Dia orangnya bersemangat dan paling berjiwa petualang di antara kami ber-enam. Kami pun memutuskan untuk menjadikannya pemimpin survival ini. A nampaknya tak banyak protes dan langsung setuju. Continue reading