Review 2 Th Yamaha Xabre: Nasib Motor Kagak Laku

Odometer Xabre: 27.449 km

Odometer Xabre: 27.449 km

Disclaimer

Saya menulis review ini murni keinginan sendiri, tidak dibayar Yamaha. Kalaupun Yamaha nanti membayar saya, itu urusan belakangan.

Xabre Tahun Kedua

Halo Bre, ini adalah lanjutan dari artikel 1 tahun lalu, mengenai review motor Yamaha Xabre. Sekarang saya akan lanjut reviewnya setelah 2 tahun pemakaian.

Motor ini masih terasa nyaman di tahun kedua. Tarikan mesin masih bertenaga. Kiprok yang bermasalah tahun kemarin pun sudah tidak ada keluhan lagi setelah pakai kiprok Yamaha NMax. Hanya saja di tahun kedua ini beberapa part mulai dilakukan penggantian dan juga service:

  1. Kampas rem depan (lagi). Ini kampas ketiga.
  2. Kampas rem belakang
  3. Gear set
  4. Busi
  5. Filter udara, filter oli
  6. Servis injeksi, dll

Si Xabre jajan besar di awal tahun 2018. Tapi tidak masalah asalkan ini motor sehat terus. Mungkin memang sudah waktunya banyak part yang diganti. Selain itu, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jarak tempuh motor ini melonjak drastis. Sekitar 17.000 km/tahun. Hampir 2x lipat dari tahun pertama yang hanya 10.000 km. Wajar saja sih. Setiap minggu saya naik motor dari Majalengka-Sumedang-Patrol-Indramayu-kembali ke Majalengka yang totalnya 250 km. Belum lagi pemakaian di dalam kota dan sesekali touring.

Namun intinya, tidak ada masalah yang cukup berarti di sisi mesin. Itu teknis ya, sekarang kita bahas non teknisnya.

Xabre Motor Kagak Laku

Yamaha Xabre dilaunching di Bali pada bulan Januari 2016. Di penghujung tahun 2016, penjualannya mencapai 20.887 unit. Menjadikannya sebagai motor sport keenam terlaris di Indonesia. Tahun 2017, posisinya merosot hingga ke-10. Sepanjang tahun Xabre hanya terjual 5.030 unit saja dari  Sabang sampai Merauke. Hehehe. Miris pemirsa!

Penjualannya bahkan kalah oleh Verza sport entry level Honda dan GSX-S150 sport pendatang baru Suzuki. Bandingkan dengan kakaknya Vixion di posisi pertama yang berhasil mengapalkan 109.813 unit di tahun yang sama. Bagai langit dan bumi. Ke-tidaklaku-an Xabre tercermin di jalanan sehari-hari. Saya akan sangat-jarang-sekali berpapasan dengan motor ini. Perjalanan Majalengka-Sumedang paling hanya bertemu 1 Xabre, kadang tidak sama sekali. Bahkan kebanyakan orang tidak tahu ini motor apa, atau tidak tahu kalau motor ini ada dan diproduksi Yamaha.

“Mas, bagus ya Bison-nya. Modif dimana?”

Bukan sekali motor saya dikira Bison modif. Montir bengkel pinggir jalan juga tidak tahu saat akan mengganti kampas rem belakang jika saya tidak bilang kalau part nya sama dengan R15 atau Vixion (Sejak saat itu saya selalu ke bengkel resmi). Entah kurang promosi, iklan, atau apa. Tapi kalau disebut kurang promosi, jumlah ekspornya malah lebih besar dari Vixion. Itu artinya orang Filipina dan Vietnam tahu motor ini ada. Sepertinya memang selera orang sini beda. Pada ga tahu motor keren. Ngahahahaha…

Bukan, bukan. Rata-rata berpendapat kalau dimensi motor ini terlalu pendek dan mahal untuk kelas 150 cc.

Jadi apakah saya kecewa kalau motor ini tidak laku?

Oh, tentu tidak.

Masalah dimensi, memang motor ini kecil sehingga tangan rider menekuk dan jok penumpang pendek. Tapi justru gara-gara itu motor jadi mudah dikendalikan dan lincah. Lagi pula saya dan pacar saya langsing jadi tidak bermasalah dengan kecilnya jok Xabre. hehe. Masalah harga, itu sih tergantung orangnya. Seperti tulisan saya sebelumnya, motor ini terlalu segmented, hanya segelintir orang saja yang suka.

Saya malah senang motor ini ga laku. Jadi terkesan motor ekslusif karena jarang dan tidak pasaran.

Kalau kebetulan ketemu sesama rider Xabre di jalan, kami akan saling sapa dengan 2x klakson. Tak jarang beberapa orang rider Xabre dengan sengaja mendekat untuk sekedar basa-basi bertanya dari mana dan mau kemana. Pasti karena melihat plat Z saya yang dikira dari ujung pulau. Padahal dari Sumedang. Yaaa, rasanya mirip kaya ketemu temen/saudara di jalan lah.

Waktu awal kemunculan Xabre, saya pernah diajak bergabung dengan Xabre Owner Community. Club motor khusus rider Xabre yang punya cabang di setiap kota. Waktu itu di Sumedang anggotanya masih belasan, karena masih menginduk ke Bandung (sekarang sepertinya sudah puluhan). Berhubung saya tidak terlalu fanatik dan jarang punya waktu untuk nongkrong, saya tidak ikut bergabung. Tapi mereka bilang jangan sungkan untuk menghubungi, terutama jika terjadi hal yang tidak diinginkan di jalan, di kota manapun itu. Pesan saya akan dibroadcast di grup dan anggota yang posisinya terdekat akan datang menolong. Ahhh, kebersamaan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. It’s Brotherhood!

Rasanya rider motor lain belum tentu seperti ini. Bayangkan jika rider Vixion saling sapa di jalan. Pasti di semua jalanan protokol di Indonesia akan ramai suara klakson. Yaiyalah, ketemu terus Vixion. Hehehe. Bercanda kawan. Ini hanya pembelaan dari rider yang motornya kagak laku. Kita semua bersaudara, salam satu aspal!

Xumbre, eh sumber:

Penjualan Xabre

 

 

 

Fenomena Ojek Online

Beberapa tahun belakangan ini, dunia transportasi diramaikan dengan munculnya ojek online. Sebuah inovasi teknologi pada smartphone yang mempermudah kita dalam pemesanan ojek sehingga tidak perlu pergi ke pangkalannya jika kita membutuhkan jasa mereka. Dengan memanfaatkan fungsi GPS di smartphone, driver ojek online (ojol) akan datang menjemput ke lokasi kita.

 

Saat ada demo dan perseteruan antara ojol dan ojek biasa, saya hanya melihatnya lewat berita TV/koran. Saat itu belum ada ojol di kota saya Sumedang. Jadi saya belum bisa menikmati layanan mereka, dan belum bisa melihat efek yang ditimbulkan pada masyarakat sekitar saya.

 

Nah, berhubung sekarang sudah ada dan sudah saya coba beberapa pelayanannya, saya akan simpulkan sebagai berikut.

Kelebihan

Praktis

Saya tinggal di dalam gang yang tidak cukup masuk mobil. Motor adalah transportasi yang mayoritas digunakan di daerah saya. Jika kebetulan motor saya sedang dipakai, maka ojol akan sangat membantu. Dibanding saya harus jalan sekitar 2km untuk mencapai pangkalan ojek/jalur angkot. Angkotpun hanya beroperasi sampai jam 6 sore, dengan armada yang minim.

Tarif murah dan jelas

Dulu ketika saya kehilangan motor, ojek adalah satu-satunya transportasi saya ke kantor. Ongkos sekali jalan 10rb, sehari 20rb, sebulan berarti sekitar 500-600rb. Itu nominal yang sama dengan menyicil motor sendiri. Itu karena mang ojek main tembak ongkos tanpa ada ukuran yang baku. Jika dengan ojol, ongkos akan dihitung per km sehingga tidak ada acara tawar-menawar.

Pelayanan beragam

Ada layanan lain yang juga disertakan dalam beberapa aplikasi ojol seperti pengantaran makanan dan dokumen. Ini kadang diperlukan saat ada dokumen penting yang ketinggalan di rumah, sedangkan kita tidak bisa keluar kantor. Atau kita hanya sekedar malas untuk keluar membeli makanan, maka ojol bisa membantu.

Kekurangan

Keamanan penumpang

Para penyedia layanan ojol harus lebih optimal lagi dalam pengawasan driver-drivernya. Beberapa kali saya dan teman saya mendapati motor yang tidak sesuai dengan di akun. Atribut motor pun seadanya.

 

Namun pada dasarnya saya setuju-setuju dengan adanya moda transportasi ini. Masyarakat tidak perlu membeli kendaraan pribadi, cukup ojol saja untuk kebutuhan transportasinya. Lagi pula ojol sekarang nyaris 24 jam. Adasaja driver yang saya lihat stand by malam hari, bahkan dini hari. Kecuali kalau pemerintah sudah bisa menyediakan transportasi umum ke setiap pelosok kota di Indonesia dengan harga yang terjangkau. Pasti saya akan beralih dari kendaraan pribadi dan ojol ke transportasi umum.

Review Yamaha Xabre (MT-15) Setelah 1 Tahun Pemakaian

Kali ini saya akan memberikan review untuk motor Yamaha Xabre (baca: Seiber) alias MT-15 setelah 1 tahun pemakaian. Kalau liat odometer sih baru 10rb km-an.

Speedometer Xabre

Odometer Xabre: 10.394km

Saya tertarik membuat review karena baru kali ini ngurus motor dari orok, hahaha. Sebagai informasi, beberapa motor yang pernah saya pakai dalam waktu yang lumayan lama diantaranya Kharisma, Mio, Beat, dan Satria F. Jadi punya pembanding meskipun beda kelas.

Xabre adalah jawaban kegalauan saya setelah si Suzie, Satria F, saya digondol maling. Cukup bosan dengan motor bebek, matic, dan ayago, saya berniat membeli motor naked sport (saya kurang suka sport fairing). Setelah mencoba beberapa naked sport punya teman, riding positionnya cukup nyaman, pokoknya memberikan rasa yang beda dibanding bebek & matic. Jujur, saya ga terlalu ngerti mesin. Hal yang pertama dilihat cuma design. Tahun 2015 design yang bikin saya jatuh hati itu KTM Duke 200 karena bentuknya yang mirip Satria F versi sport. Tapi harganya 70jt (sekarang udah 33jt! Mewek cuy… T.T ) Dulu Duke belum dirakit di Indonesia, masih CBU. Kawasaki Ninja 250 versi Mono juga sama mahal (bagi saya). Vixion terlalu pasaran, dan dari Honda saat itu belum ada yang menawarkan design oke. Yang paling mending designnya Bison. Eh, pas keluar versi terbarunya malah ga karuan designnya. haha

Masuknya Xabre di awal 2016 jadi angin segar. Buntutnya yang pendek jadi mengingatkan saya pada Duke. Design secara keseluruhan saya nilai paling keren di kelasnya.

Tanpa pikir panjang saya beli tuh motor.

Weekly Ride bareng Xabre alias MT-15

Weekly Ride bareng Xabre: Sumedang-Indramayu.

Kelebihan

Design agresif. Sok depan UpSide Down (USD) 36mm yang membuat tampilannya kekar berotot, speedometer negative LCD digital, lampu full LED, swing arm aluminium, ban lebar (depan 110 belakang 130), electric starter khas klan MT, dan spakbor menggantung. Dulu pas awal-awal keluar, pasti jadi tontonan kalau lagi di lampu merah. hehe

Handling mantap. Meski bodinya bongsor ternyata cukup ringan. Banyaknya part plastik pada body, shroud, dan tangki mungkin jadi faktor penyebabnya. Belakangan pemakaian plastik mulai marak karena dinilai mudah dibentuk. Stang lebar dan posisi jok yang lebih maju juga turut menyumbang enaknya handling motor ini. Salip-salip di kemacetan tidak membuat motor ini sulit dikendalikan.

Nyaman. Posisi jok yang maju itu pula membuat badan tegak dan rileks. Touring diatas 400km seharian tidak akan membuat pegal meski step agak ke belakang mirip step underbone.

Feel yang baru. Naik motor ini agak berbeda dengan naked sport Yamaha yang sudah ada sebelumnya. Ada aura moge dan campuran supermoto. Didukung helm bawaan yang cocok pula.

Kekurangan

Segmented. Yamaha menyatakan kalau motor ini terinspirasi dari gaya Minor Fighter, menjadikan motor ini sangat segmented karena masalah selera. Terlihat dari jok belakang yang sangat kecil. Akan kesulitan jika membonceng orang yang badannya berisi. Motor ini akan sangat sulit dinaiki bertiga, apalagi dengan design jok yang terpisah.

Tinggi. Belum lagi seat height yang terlalu tinggi untuk saya yang tingginya 165 cm. Saya harus beli lowering kit untuk menurunkan tingginya 5cm sehingga kedua kaki bisa menapak.

Spakbor kurang fungsional. Posisi spakbor terlalu sporty sehingga tidak menjalankan fungsinya dengan sempurna. Kalau hujan, cipratan airnya akan mengenai punggung bahkan ke bagian belakang helm.

Mesin. Pada sektor mesin, tarikannya terasa ngempos di putaran atas. Gigi 6 jarang sekali dipakai. Rasanya susah pengen 120kmpj, kalah top speed bila dibanding kakaknya sendiri Vixion yang punya basis mesin sama, apalagi Satria. Tidak heran sih sebenarnya, toh klan MT dibuat oleh pabrikan dengan menonjolkan torsinya, dan itu terbukti tarikannya nampol di putaran awal.

Selain itu, minor problem yang mulai ditemukan di 1 tahun ini adalah indikator mesin yang menyala, makin hari-makin sering terutama saat mesin dingin. Setelah dicek masalahnya di kiprok, terjadi overcharge alias pengisian aki secara berlebihan. Kata teknisinya, ini masalah yang serupa dengan R15 karena tidak punya kick starter. Harganya cukup mahal kisaran 400-500rb sehingga banyak yang menyarankan disubstitusi dengan kiprok NMax, yang harganya hanya seperempatnya.

Update 25 Mei 2017: Problem solved setelah ganti pake kiprok NMax.

So, thats all. Secara keseluruhan saya puas dengan motor ini. Meski orang bilang kemahalan untuk motor 150cc, tapi kalau ngemodif sendiri dan dihitung harga per part-nya, nih motor worth banget lah. Terbayar dengan kelebihan dan kenyamanan yang saya dapat selama setahun terakhir ini. peace

Thanks for reading. See ya on the next post!

Kelemahan Satria FU

Berikut ini kelemahan Satria FU yang gw copas dari blog orang. Hehe, tenang aja sumbernya dicantumin di bawah.  Gw bandingin sama pengalaman gw naek FU.

  1. Transmisi gigi kurang enak ( koplingnya gampang seret ). Emang tergolong keras sih. Tapi ini relatif, sesuai pendapat pengendaranya. Soalnya kan karakter tiap motor beda-beda.
  2. Cakram belakang kadang2 bunyi. Selama ini gw jarang ngalamain 😀
  3. Tensioner keteng gampang kendor ( jadi bunyi gitu ). Yup, bener banget. Ganggu juga kadang2.
  4. Boros. Kalau ini sih resiko motor DOHC mesin 150cc, pake pertamax lagi. Tenaga mantep ya butuh dikasih minum yang mantep pula. Bisa pake premium, dengan konsekuensi tenaga ga maksimal.
  5. Ban belakang boros (cepet botak). Ini belum tau nih, kita liat aja bener apa nggak.
  6. Suka nembak2 knalpotnya. Kadang-kadang.
  7. Kalo ujan gampang mati mesinnya. Ga juga, gw bawa ujan-ujanan fine aja. Tapi kalo pas cuci motor ga hati-hati emang suka bikin motor mati. Biasanya air masuk ke busi, gara-gara posisi busi yang rentan kena air. Asal jangan terlalu diguyur aja sih.
  8. Rante cepet kendor (jadi brisik bunyi dari rante motor). Yang ini idem sama no.3, udah bawaan orok kayaknya 😀
  9. Yang bonceng gampang pegel, soale joknya kecil banget. Ya. Jadi kasian sama boncenger di belakang.
  10. Klaher depan blakang dah dua kali ganti. Ga tau, belum ngalamin.
  11. Lampu yang kurang terang. Bener.  Tapi masih dalam batas wajar lah.
  12. Standar Kit motor karetnya gampang putus, plastik tempat naro2 koncinya. Maybe
  13. Lampu rem blakang dah putus sekali, nggak tau penyebabnya. Ga tau.
  14. Kaca spion kualitasnya mengecewakan.-. dah pada bodas kacanya di umur 2 bulan. Udah diganti. Padahal bagus juga yang ori-nya.
  15. Kalo lewat kubangan air pasti airnya nyiprat kemana2.. so lutut kebawah pasti belepotan. Yup, bener.
  16. Ga bisa bawa barang bawaan… terpaksa harus pake tas ransel.. so encok makin ngilu2. Tampilan sporty emang butuh pengorbanan 😦
  17. Tangki bensin kekecila. Beneerrr, motor boros mestinya tangkinya rada gede, biar ga kebanyakan silaturahmi sama POM.

Sumber: http://www.surabayasatria-club.co.cc/2010/08/kekurangan-satria-fu-150.html